Notification

×

Iklan

Iklan

Dr Wilmar Simanjorang Sarankan Lebih Baik APL Tele Dijadikan Kebon Raya

Rabu, 02 April 2025 | 14:38 WIB Last Updated 2025-04-02T07:38:56Z
Dr Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec.,M.Si

Samosir.Internationalmedia.id.-Dr Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec.,M.Si, salah seorang Penggiat Lingkungan/Ketua Pergerakan Penyelamatan Kawasan Danau Toba menyayangkan ketidakmampuan Badan Pengelola Toba Caldera Unesco Global Geopark mengurus Toba Caldera.

Juga ketidakmampuannya melakukan 6  rekomendasi UNESCO dalam rangka  memperkokoh pilar konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat local dalam memelihara keanegaragaman geologi, keaneka ragaman hayati dan keanekaragaman budaya dalam mewujukan visinya yaitu “memuliakan bumi serta mensejahterahkan masyarakat.”

Maka UNESCO akhir tahun 2023 menjatuhkan kartu kuning kepada APL Tele yang keadaanya sudah rusak tersebut.

Untuk itu Ia menyarankan kepada Bupati/Wakil Bupati, Gubernur/Wakil Gubernur Sumut, kepada Presiden Prabowo Subianto/Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, lebih baik dijadikan Kebun Raya (Botanical Garden). Dikelola bersama-sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengingat kita sekarang adalah Global Geopark dan didorong aspek Biodiversity. 

Indonesia adalah salah satu negara yang jumlah Kebun Raya (Botanical Garden) yang sedikit di dunia. Lihat negara-negara maju, punya banyak Botanical Garden. Dan manfaatnya sangat banyak. 

Untuk dan dalam rangka konservasi Biodiversity seperti dipersyaratkan oleh Unesco dalam membangun dan mengembangkan Geopark. Saya membangun Etno Botani Batak Sigulatti Kecamatan Sianjurmula-mula Kabupaten Samosir di Kawasan 22 ha yang telah diserahkan Masyarakat Adat Desa Sianjurmula-mula kepada Pemerintah Daerah.

Hal ini disampaikan pada Acara Doa Bersama Pemulihan Danau Toba yang dipimpin Ephorus HKBP, Dr. Viktor Tinambunan, sebuah kegiatan sebagai ajakan mendukung pemulihan dan perawatan Kawasan Danau Toba (KDT), Selasa (1/4/2025) di Samosir.

Perubahan Iklim

Menurut Dr Wilmar, konsentrasi dan totalitas pada masalah perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Indonesia dan Kawasan Danau Toba seharusnya menjadi pionir dan sekaligus momentum untuk pembenahan internal baik dari manajemen sumber daya alam dan lingkungan seperti hutan, gambut, mangrove, energi, pertambangan, hingga masalah hidrometeorologi. 

Sekitar 75% emisi dunia berasal dari G20, dan negara anggota G-20 adalah penyumbang mayoritas degradasi lingkungan seperti deforestasi tinggi dari Argentina, Australia, Brasil dan Indonesia. Miris melihat negara non-G20 seperti Pakistan lebih memberikan keringat yang lebih banyak dengan inisiatif ‘Tsunami Miliaran Pohon’. 

Sejak tahun 2018 sudah 30 juta pohon berhasil ditanam. Bahkan dampak covid-19 yang menciptakan pengangguran dimanfaatkan pemerintah Pakistan dengan menampung 63 ribu orang untuk menanam pohon.

Selama satu dekade kami sudah merasakan susahnya menanam dan menumbuhkan satu pohon, khususnya di musim kemarau, dan masih maraknya pembakaran perbukitan dan hutan di sekeliling Danau Toba. Namun menurut hemat kami memulihkan dan menkonservasi KDT  bisa dilakukan, karena Tuhan menolong kita,ucapnya. *

×
Berita Terbaru Update